0 com
Bumiku Sayang, Bumiku Malang

SMA N 2 NGAGLIK
2013
Kata Pengantar
Puji syukur
penulis penjatkan kehadirat Alloh SWT, yang atas rahmat-Nya maka penulis dapat
menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul
“Bumiku Sayang, Bumiku Malang”.
Penulisan makalah
adalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas
mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMA N 2 NGAGLIK.
Dalam
Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik
pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki
penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan
demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Akhirnya
penulis berharap semoga dengan ditulisnya makalah ini dapat meningkatkan
pengetahuan mengenai pelajaran bahasa indonesia.Amien
Daftar
Isi
Bab
1 Pengertian Eksploitasi
Eksplotasi
dapat didefinsikan menjadi beberapa pengertian yaitu :
-
Pengambilan sumberdaya alam untuk
dipakai / dipergunakan atau dimanfaatkan dalam berbagai keperluan manusia dalam
memenuhi kebutuhannya.( Dra. Nurkartika,
dkk)
-
usaha
penambangan dengan maksud untuk menghasilkan bahan galian dan memanfaatkannya.
-
politik pemanfaatan, eksploitasi adalah untuk kepentingan ekonomi atau kesejahteraan.(secara
harfiah)
Eksploitasi merupakan salah satu dari kegiatan manusia yang tidak dapat dipisahkan dari
kehidupan. Hal ini sesuai dengan pesan
Che Guevara ,” Dunia ini penuh dengan manusia yang kelaparan yang tidak
mempunyai uang untuk membeli makanan, ini adalah sebuah paradok, di dunia
negara miskin adalah dunia yang selalu lapar, mungkin terdapat cara memperluas
produksi makanan yang dapat menjaga agar harga pangan menjadi tidak terlalu
mahal agar mereka bisa membeli dan mendapatkan makanan. Ini adalah filosofi
yang tidak berdasarkan kebijakan yang adil dan harus diberhentikan sebagai
dasar aturan dalam hubungan antara bangsa-bangsa......".I ni
mengisyaratkan bahwa eksploitasi dilakukan dalam upaya memenuhi kebutuhan
manusia. Secara ekonomi eksploitasi
merupakan salah satu bentuk usaha ekstraktif.
Yaitu usaha yang mengolah sumber
daya alam dengan cara mengambil bahan baku langsung dari alam.
Contohnya saja adalah kegiatan pertambangan.
Di dalam UUD 1945 pasal 33 ayat 3 yang berbunyi “Bumi dan air
dan kekayaan yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan
untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. Hal ini mengisyaratkan bahwa negara
memperbolehkan rakyatnya untuk mengolah alam, dalam rangka tercapainya
masyarakat yang adil makmur. Namun dalam pelaksanaan eksploitasi tersebut sering terjadi beberapa
pelanggaran. Contoh nyata yang dapat dilihat adalah eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan tanpa memperhatikan dampak-dampak yang ditimbulkannya. Eksploitasi
sumber daya alam yang diambil secara
besar-besaran tersebut contohnya adalah
penambangan minyak bumi yang berlebihan. Lebih lanjut penulis akan
membahas mengenai penyimpangan-penyimpangan yang muncul dalam kegiatan
penambangan minyak bumi.
Bab
2 Eksploitasi Minyak Bumi
Bentuk eksploitasi bumi sangatlah banyak selanjutnya penulis
akan membahas mengenai eksplotasi minyak
bumi dan penyimpangan yang ada dalam kegiatan tersebut.
2.1 Proses
Eksplotasi Minyak Bumi
Pengeboran minyak bumi adalah usaha teknis yang dilaksanakan
dengan membuat lubang ke perut bumi dengan aman (sesuai standar tertentu)
sampai ke formasi yang kaya akan kandungan minyak bumi dan gas. Lubang ini
kemudian dilapisi dengan casing (pipa besi dengan ukuran standar) dan dilakukan
penyemenan (cementing) untuk melekatkan casing pada dinding formasi. Dengan
terhubunganya lapisan formasi dengan permukaan melalui lubang hasil pengeboran
ini maka kandungan minyak bumi di dalam perut bumi dapat dimanfaatkan secara
komersial dalam jumlah yang ekonomis.
Operasi pengeboran merupakan kegiatan di kawasan terbatas dengan jumlah investasi yang besar. Kegiatan ini melibatkan investasi padat modal dengan peralatan teknologi tinggi dan manusia-manusia yang memiliki kualifikasi yang dibutuhkan. Para personil yang bekerja di pengeboran harus memiliki pengetahuan yang mendalam, pengalaman di bagian yang menjadi kekhususannya, dan memperhatikan keselamatan kerja sebagai hal yang paling utama. Keselamatan kerja akan berpengaruh positif pada keberhasilan proyek dengan tidak terhentinya proses pengeboran, serta berpengaruh pada citra perusahaan minyak bumi dan gas di mata pemangku kepentingan (pemerintah, pemegang saham, investor, masyarakat sekitar, dan pemerhati lingkungan). Untuk lebih jelasnya sebelum ke pengeboran kita mundur sejenak untuk melihat proses-proses yang dilaksanakan untuk mengetahui adanya perangkap di bawah permukaan yang berisi cadangan minyak bumi dan gas. Proses tersebut meliputi:
1. Survei oleh ahli geologi
Ruang lingkup geologi minyak dan gas bumi adalah geologi batuan lunak (soft-rock geology) yang mempelajari batuan sedimen untuk mencari minyak dan batu bara yang erat kaitannya dengan batuan sedimen. Geologi mengkaji batuan sedimen dan semua faktor yang menentukan cara terdapatnya, penyebaran, dan cara berakumulasinya minyak dan gas bumi di kerak bumi. Dari hasil singkapan tersebut lalu dibuatkan petanya untuk menentukan tempat terbaik untuk melakukan pengeboran.Geologi migas meliputi geologi permukaan dan bawah permukaan.
Menurut Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia , untuk menentukan suatu daerah mempunyai potensi akan minyak bumi, maka ada beberapa kondisi yang harus ada di daerah tersebut dalam eksplorasi minyak bumi hal ini disebut kajian geologi. Jika salah satu saja tidak ada maka daerah tersebut tidak potensial atau bahkan tidak mengandung hidrokarbon. Kondisi itu adalah:
a. Batuan Sumber (Source Rock), yaitu batuan yang menjadi bahan baku pembentukan hidrokarbon. biasanya yang berperan sebagai batuan sumber ini adalah serpih (Shale). batuan ini kaya akan kandungan unsur atom karbon (C) yang didapat dari cangkang – cangkang fosil yang terendapkan di batuan itu. Karbon inilah yang akan menjadi unsur utama dalam rantai penyusun ikatan kimia hidrokarbon.
b. Tekanan dan Temperatur, untuk mengubah fosil tersebut menjadi hidrokarbon, tekanan dan temperatur yang tinggi di perlukan. Tekanan dan temperatur ini akan mengubah ikatan kimia karbon yang ada dibatuan menjadi rantai hidrokarbon.
c. Migrasi, Hirdokarbon yang telah terbentuk dari proses di atas harus dapat berpindah ke tempat dimana hidrokarbon memiliki nilai ekonomis untuk diproduksi. Di batuan sumbernya sendiri dapat dikatakan tidak memungkinkan untuk di ekploitasi karena hidrokarbon di sana tidak terakumulasi dan tidak dapat mengalir. Sehingga tahapan ini sangat penting untuk menentukan kemungkinan eksploitasi hidrokarbon tersebut.
d. Reservoir, adalah batuan yang merupakan wadah bagi hidrokarbon untuk berkumpul dari proses migrasinya. Reservoar ini biasanya adalah batupasir dan batuan karbonat, karena kedua jenis batu ini memiliki pori yang cukup besar untuk tersimpannya hidrokarbon. Reservoar sangat penting karena pada batuan inilah minyak bumi di produksi.
e. Caps Rock, Minyak dan atau gas terdapat di dalam reservoir, untuk dapat menahan dan melindungi fluida tersebut, maka lapisan reservoir ini harus mempunyai penutup di bagian luar lapisannya. Sebagai penutup lapisan reservoir biasanva merupakan lapisan batuan yang rnempunyai sifat kekedapan (impermeabel), yaitu sifat yang tidak dapat meloloskan fluida yarg dibatasinya. Jadi lapisan penutup didefinisikan sebagai lapisan yang berada dibagian atas dan tepi reservoir yang dapat dan melindungi fluida yang berada di dalam lapisan di bawahnya.
f. Perangkap Reservoir (Reservoir Trap), Merupakan unsur pembentuk reservoir sedemikian rupa sehingga lapisan beserta penutupnya merupakan bentuk yang konkap ke bawah, hal ini akan mengakumulasikan minyak dalam reservoir. Jika perangkap ini tidak ada maka hidrokarbon dapat mengalir ketempat lain yang berarti ke ekonomisannya akan berkurang atau tidak ekonomis sama sekali.

Gb. Akumulasi geologis: A) Anticline trap, B) Fault trap, C) Unconformity trap, and D) Stratigraphic trap.
sumber: http://www.geology.ohio-state.edu/~vonfrese/gs100/lect22/

Gb. Struktur perangkap
sumber: http://www.geology.ohio-state.edu/~vonfrese/gs100/lect22/
2. Seismik
Proses ini bertujuan untuk mencari kandungan minyak ataupun gas bumi dengan menggunakan gelombang akustik (acoustic waves) yang merambat ke lapisan tanah. Gelombang ini direfleksikan dan ditangkap kembali oleh sensor. Dari data proses perambatan gelombang ini akan diolah untuk mendapatkan informasi lapisan tanah yang dapat dimanfaatkan kandungan minyak dan gas buminya. Untuk melakukan proses seismik di kedalaman laut digunakan kapal survei dengan peralatan sonar.

Gb. Seismik daratan
sumber: http://www.earthscrust.org/science/startups/australia-su.html

Gb. ANSIR vibrator seismic energy source "Brolga" – IVI Birdwagon Mk 4b with Hemi-60 vibrator, 60,000 pounds pressure. Usually 3 in line are used for routine deep seismic profiling.
sumber: http://www.earthscrust.org/science/startups/australia-su.html

Gb. Seismik lautan
sumber: http://www.epa.gov/esd/cmb/GeophysicsWebsite/pages/reference/methods/Marine_Geophysical_Methods/Marine_Seismic_Methods.htm
Operasi pengeboran merupakan kegiatan di kawasan terbatas dengan jumlah investasi yang besar. Kegiatan ini melibatkan investasi padat modal dengan peralatan teknologi tinggi dan manusia-manusia yang memiliki kualifikasi yang dibutuhkan. Para personil yang bekerja di pengeboran harus memiliki pengetahuan yang mendalam, pengalaman di bagian yang menjadi kekhususannya, dan memperhatikan keselamatan kerja sebagai hal yang paling utama. Keselamatan kerja akan berpengaruh positif pada keberhasilan proyek dengan tidak terhentinya proses pengeboran, serta berpengaruh pada citra perusahaan minyak bumi dan gas di mata pemangku kepentingan (pemerintah, pemegang saham, investor, masyarakat sekitar, dan pemerhati lingkungan). Untuk lebih jelasnya sebelum ke pengeboran kita mundur sejenak untuk melihat proses-proses yang dilaksanakan untuk mengetahui adanya perangkap di bawah permukaan yang berisi cadangan minyak bumi dan gas. Proses tersebut meliputi:
1. Survei oleh ahli geologi
Ruang lingkup geologi minyak dan gas bumi adalah geologi batuan lunak (soft-rock geology) yang mempelajari batuan sedimen untuk mencari minyak dan batu bara yang erat kaitannya dengan batuan sedimen. Geologi mengkaji batuan sedimen dan semua faktor yang menentukan cara terdapatnya, penyebaran, dan cara berakumulasinya minyak dan gas bumi di kerak bumi. Dari hasil singkapan tersebut lalu dibuatkan petanya untuk menentukan tempat terbaik untuk melakukan pengeboran.Geologi migas meliputi geologi permukaan dan bawah permukaan.
Menurut Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia , untuk menentukan suatu daerah mempunyai potensi akan minyak bumi, maka ada beberapa kondisi yang harus ada di daerah tersebut dalam eksplorasi minyak bumi hal ini disebut kajian geologi. Jika salah satu saja tidak ada maka daerah tersebut tidak potensial atau bahkan tidak mengandung hidrokarbon. Kondisi itu adalah:
a. Batuan Sumber (Source Rock), yaitu batuan yang menjadi bahan baku pembentukan hidrokarbon. biasanya yang berperan sebagai batuan sumber ini adalah serpih (Shale). batuan ini kaya akan kandungan unsur atom karbon (C) yang didapat dari cangkang – cangkang fosil yang terendapkan di batuan itu. Karbon inilah yang akan menjadi unsur utama dalam rantai penyusun ikatan kimia hidrokarbon.
b. Tekanan dan Temperatur, untuk mengubah fosil tersebut menjadi hidrokarbon, tekanan dan temperatur yang tinggi di perlukan. Tekanan dan temperatur ini akan mengubah ikatan kimia karbon yang ada dibatuan menjadi rantai hidrokarbon.
c. Migrasi, Hirdokarbon yang telah terbentuk dari proses di atas harus dapat berpindah ke tempat dimana hidrokarbon memiliki nilai ekonomis untuk diproduksi. Di batuan sumbernya sendiri dapat dikatakan tidak memungkinkan untuk di ekploitasi karena hidrokarbon di sana tidak terakumulasi dan tidak dapat mengalir. Sehingga tahapan ini sangat penting untuk menentukan kemungkinan eksploitasi hidrokarbon tersebut.
d. Reservoir, adalah batuan yang merupakan wadah bagi hidrokarbon untuk berkumpul dari proses migrasinya. Reservoar ini biasanya adalah batupasir dan batuan karbonat, karena kedua jenis batu ini memiliki pori yang cukup besar untuk tersimpannya hidrokarbon. Reservoar sangat penting karena pada batuan inilah minyak bumi di produksi.
e. Caps Rock, Minyak dan atau gas terdapat di dalam reservoir, untuk dapat menahan dan melindungi fluida tersebut, maka lapisan reservoir ini harus mempunyai penutup di bagian luar lapisannya. Sebagai penutup lapisan reservoir biasanva merupakan lapisan batuan yang rnempunyai sifat kekedapan (impermeabel), yaitu sifat yang tidak dapat meloloskan fluida yarg dibatasinya. Jadi lapisan penutup didefinisikan sebagai lapisan yang berada dibagian atas dan tepi reservoir yang dapat dan melindungi fluida yang berada di dalam lapisan di bawahnya.
f. Perangkap Reservoir (Reservoir Trap), Merupakan unsur pembentuk reservoir sedemikian rupa sehingga lapisan beserta penutupnya merupakan bentuk yang konkap ke bawah, hal ini akan mengakumulasikan minyak dalam reservoir. Jika perangkap ini tidak ada maka hidrokarbon dapat mengalir ketempat lain yang berarti ke ekonomisannya akan berkurang atau tidak ekonomis sama sekali.

Gb. Akumulasi geologis: A) Anticline trap, B) Fault trap, C) Unconformity trap, and D) Stratigraphic trap.
sumber: http://www.geology.ohio-state.edu/~vonfrese/gs100/lect22/

Gb. Struktur perangkap
sumber: http://www.geology.ohio-state.edu/~vonfrese/gs100/lect22/
2. Seismik
Proses ini bertujuan untuk mencari kandungan minyak ataupun gas bumi dengan menggunakan gelombang akustik (acoustic waves) yang merambat ke lapisan tanah. Gelombang ini direfleksikan dan ditangkap kembali oleh sensor. Dari data proses perambatan gelombang ini akan diolah untuk mendapatkan informasi lapisan tanah yang dapat dimanfaatkan kandungan minyak dan gas buminya. Untuk melakukan proses seismik di kedalaman laut digunakan kapal survei dengan peralatan sonar.

Gb. Seismik daratan
sumber: http://www.earthscrust.org/science/startups/australia-su.html

Gb. ANSIR vibrator seismic energy source "Brolga" – IVI Birdwagon Mk 4b with Hemi-60 vibrator, 60,000 pounds pressure. Usually 3 in line are used for routine deep seismic profiling.
sumber: http://www.earthscrust.org/science/startups/australia-su.html

Gb. Seismik lautan
sumber: http://www.epa.gov/esd/cmb/GeophysicsWebsite/pages/reference/methods/Marine_Geophysical_Methods/Marine_Seismic_Methods.htm
2.2 Penyimpangan dalam eksploitasi Minyak Bumi
Faktor penyebab munculnya penyimpangan dalam eksploitasi
minyak bumi :
1. Lemahnya sistem hukum
2. Adanya anggapan bahwa minyak bumi
adalah barang berharga
3. Konspirasi pihak asing
4. Kurangnya pengawasan
5. Sifat manusia yang tidak pernah
merasa puas dan rakus
Contoh penyimpangan dalam
eksploitasi minyak bumi di Indonesia :
Pencurian minyak kerap terjadi di Indonesia khususnya di
daerah penghasil minyak mentah. Masyarakat tanpa perasaan berdosa mencuri
minyak dengan cara merusak pipa penyaluran minyak antar daerah. Setelah pipa
itu mereka rusak maka warga berbondong-bondong datang untuk mengambil minyak
mentah tersebut. Contoh nyata adalah di Plaju, Sumatera Selatan. Pencurian
minyak ini sangat merugikan negara. Bahkan berdasar penuturan dari Kepala SKK
MIGAS Sumatera Selatan, Setia Budi frekuensi dan volume pencurian minyak di
jalur pipa tersebut mengalami lonjakan sejak awal tahun 2013, bahkan mencapai
rekor tertinggi dalam tiga tahun terakhir, yakni rata-rata perhari sebanyak
3.000 hingga 5.000 barel dari 11.000--13.000 barel minyak yang dipompakan
melewati jalur itu. Pencurian minyak di Plaju merupakan pencurian minyak dengan
intensitas tertinggi di Indonesia. Pencurian ini disebabkan karena
ketidakmampuan rakyat kecil untuk membeli bahan bakar minyak. Hal karena
ssetiap hari harga minyak dunia terus melambung tinggi.
Selain
pencurian minyak, penimbunan bahan bakar minyak merupakan masalah yang sangat
serius. Penimbunan ini dilakukan agar bahan bakar minyak di pasaran menjadi
langka dan harganya naik. Ketika harga bahan bakar minyak naik itulah penimbun
akan menjualnya. Penimbunan ini sering terjadi saat akan diumumkannya kenaikan
harga BBM oleh pemerintah. Para penimbun hanyalah memikirkan kepentingan
perutnya sendiri tanpa memperhatikan nasib rakyat kecil. Tentunya ini adalah
suatu masalah yang sangat menyedihkan. Dikala rakyat kecil menjerit karena BBM
naik, tetapi para penimbun justru menikmati harta haram mereka.
Limbah minyak adalah buangan yang
berasal dari hasil eksplorasi produksi minyak, pemeliharaan fasilitas produksi,
fasilitas penyimpanan, pemrosesan, dan tangki penyimpanan minyak pada kapal
laut. Limbah minyak bersifat mudah meledak, mudah terbakar, bersifat reaktif,
beracun, menyebabkan infeksi, dan bersifat korosif. Limbah minyak merupakan
bahan berbahaya dan beracun (B3), karena sifatnya, konsentrasi maupun jumlahnya
dapat mencemarkan dan membahayakan lingkungan hidup, serta kelangsungan hidup
manusia dan mahluk hidup lainnya.
Sumber pencemaran minyak di laut
Limbah minyak yang berasal dari
minyak mentah (crude oil) terdiri dari ribuan konstituen pembentuk yang secara
struktur kimia dapat dibagi menjadi lima family :
a. Hidrokarbon jenuh (saturated
hydrocarbons), merupakan kelompok minyak yang dicirikan dengan adanya rantai
atom karbon (bercabang atau tidak bercabang atau membentuk siklik) berikatan
dengan atom hidrogen, dan merupakan rantai atom jenuh (tidak memiliki ikatan
ganda). Termasuk dalam kelompok ini adalah golongan alkana (paraffin), yang
mewakili 10-40 % komposisi minyak mentah. Senyawa alkana bercabang (branched
alkanes) biasanya terdiri dari alkana bercabang satu ataupun bercabang banyak
(isoprenoid), contoh dari senyawa ini adalah pristana, phytana yang terbentuk
dari sisa-sisa pigment chlorofil dari tumbuhan. Kelompok terakhir dari famili
ini adalah napthana (Napthenes) atau disebut juga cycloalkanes atau
cycloparaffin. Kelompok ini secara umum disusun oleh siklopentana dan
siklohexana yang masanya mewakili 30-50% dari massa total minyak mentah.
b. Aromatik (Aromatics). Famili
minyak ini adalah kelas hidrokarbon dengan karakteritik cincin yang tersusun
dari enam atom karbon. Kelompok ini terdiri dari benzene beserta turunannya
(monoaromatik dan polyalkil), naphtalena (2 ring aromatik), phenanthren (3
ring), pyren, benzanthracen, chrysen (4 ring) serta senyawa lain dengan 5-6
ring aromatic. Aromatik ini merupakan komponen minyak mentah yang paling
beracun, dan bisa memberi dampak kronik (menahun, berjangka lama) dan
karsinogenik (menyebabkan kanker). Hampir kebanyakan aromatik bermassa rendah
(low-weight aromatics), dapat larut dalam air sehingga meningkatkan bioavaibilitas
yang dapat menyebabkan terpaparnya organisma didalam matrik tanah ataupun pada
badan air. Jumlah relative hidrokarbon aromatic didalam mnyak mentah bervariasi
dari 10-30 %.
c. Asphalten dan Resin. Selain empat
komponen utama penyusun minyak tersebut di atas, minyak juga dikarakterisasikan
oleh adanya komponen-komponen lain seperti aspal (asphalt) dan resin (5-20 %)
yang merupakan komponen berat dengan struktur kimia yang kompleks berupa siklik
aromatic terkondensasi dengan lebih dari lima ring aromatic dan
napthenoaromatik dengan gugus-gugus fungsional sehingga senyawa-senyawa
tersebut memiliki polaritas yang tinggi.
d. Komponen non-hidrokarbon. Kelompok
senyawa non-hidrokarbon terdapat dalam jumlah yang relative kecil, kecuali
untuk jenis petrol berat (heavy crude). Komponen non-hidrokarbon adalah
nitrogen, sulfur, dan oksigen, yang biasanya disingkat sebagai NSO. Biasanya
sulphur lebih dominant disbanding nitrogen dan oxygen, sebaga contoh, minyak
mentah dari Erika tanker mengandung kadar S, N dn O berturut-turut sebesar 2.5,
1.7, dan 0.4 % (Baars, 2002).
e. Porphyrine. Senyawa ini berasal
dari degradasi klorofil yang berbentuk komplek Vanadium (V) dan Nikel (Ni).
Berikut adalah dampak yang
ditimbulkan dari adanya pencemaran air laut dari limbah minyak :
Ø WATHERING/ PELAPUKAN PADA TUMPAHAN
MINYAK BUMI
Proses transformasi oil spill di laut
yaitu ketika oil spill terjadi di lingkungan laut, minyak akan mengalami
serangkaian perubahan/pelapukan (weathering) atas sifat fisik dan kimiawi.
Sebagian perubahan tersebut mengarah pada hilangnya beberapa fraksi minyak dari
permukaan laut, sementara perubahan lainnya berlangung dengan masih terdapatnya
bagian material minyak di permukaan laut. Meskipun minyak yang tumpah pada
akhirnya akan terurai/terasimilisi oleh lingkungan laut, namun waktu yang
dibutuhkan untuk itu tergantung pada karakteristik awal fisik dan kimiawi
minyak dan proses peluruhan (weathering) minyak secara alamiah.
Weathering atau pelapukan minyak
adalah proses penghamburan minyak yang tumpah hasil dari sejumlah proses kimia
dan fisik yang mengubah komposisi. Minyak akan mengalami pelapukan dalam
cara-cara yang berbeda. Beberapa prosesnya, seperti pada pendispersian alami
minyak ke dalam air, mengakibatkan bagian dari minyak meninggalkan permukaan air
laut, dan sisanya, seperti pada proses evaporasi atau formasi air pada emulsi
minyak, mengakibatkan minyak yang tersisa pada permukaan dan tinggal dalam
waktu lama (persisten).
Meskipun minyak yang tumpah pada
akhirnya akan terurai/terasimilisi oleh lingkungan laut, namun waktu yang
dibutuhkan untuk itu tergantung pada karakteristik awal fisik dan kimiawi
minyak dan proses peluruhan (weathering) minyak secara alamiah.
Beberapa faktor utama yang
mempengaruhi perubahan sifat minyak adalah:
a. Karaterisik fisika minyak,
khususnya gravitasi spesifik, viskositas dan rentang didih;
b. Komposisi dan karakteristik
kimiawi minyak;
c. Kondisi meteorologi (sinar
matahari (fotooksidasi), kondisi oseanograpi dan temperatur udara); dan
d. Karakteristik air laut (pH,
gravitasi spesifik, arus, temperatur, keberadaan bakteri, nutrien, dan oksigen
terlaut serta padatan tersuspensi).
Cara dimana lapisan minyak pecah dan
menyebar sangat tergantung pada ketahanan (tingkat persisten) minyak tersebut.
Produk ringan seperti kerosin cenderung terevaporasi, tersebar dengan cepat,
dan tidak perlu pembersihan sebab akan hilang secara alami. Ini dinamakan
minyak non-persisten. Sebaliknya, minyak persisten seperti pada kebanyakan
minyak mentah, pecah dan menyebar lebih lambat dan biasanya memerlukan tindakan
pembersihan. Sifat fisika seperti densitas, viskositas, dan titik alir minyak,
semuanya mempengaruhi sifat penyebarannya. Penyebaran tidak terjadi tiba-tiba. Waktu penyebarannya
tergantung sejumlah faktor, termasuk jumlah dan tipe tumpahan minyak, kondisi
cuaca, dan jika minyak tertinggal di laut atau terbawa ke darat. Kadang-kadang,
prosesnya cepat dan pada waktu lain terjadi dengan lambat, terutama di perairan
tertutup dan tenang.
Proses pelapukan (Wathering) tumpahan
minyak di laut terjadi ke dalam beberapa mekanisme diantaranya : melalui
pembentukan lapisan ( slick formation ), penyebaran (dissolution), pergeseran,
penguapan (evaporation), polimerasi (polymerization), emulsifikasi
(emulsification), emulsi air dalam minyak ( water in oil emulsions ), emulsi
minyak dalam air (oil in water emulsions), fotooksida, biodegradasi mikorba,
sedimentasi, dicerna oleh planton dan bentukan gumpalan.
Hampir semua tumpahan minyak di
lingkungan laut dapat dengan segera membentuk sebuah lapisan tipis di
permukaan. Hal ini dikarenakan minyak tersebut digerakkan oleh pergerakan
angin, gelombang dan arus, selain gaya gravitasi dan tegangan permukaan.
Beberapa hidrokarbon minyak bersifat mudah menguap, dan cepat menguap. Proses
penyebaran minyak akan menyebarkan lapisan menjadi tipis serta tingkat
penguapan meningkat.
Hilangnya sebagian material yang
mudah menguap tersebut membuat minyak lebih padat/ berat dan membuatnya
tenggelam. Komponen hidrokarbon yang terlarut dalam air laut, akan membuat lapisan
lebih tebal dan melekat, dan turbulensi air akan menyebabkan emulsi air dalam
minyak atau minyak dalam air. Ketika semua terjadi, reaksi fotokimia dapat
mengubah karakter minyak dan akan terjadi biodegradasi oleh mikroba yang akan
mengurangi jumlah minyak.
Proses pembentukan lapisan minyak
yang begitu cepat, ditambah dengan penguapan komponen dan penyebaran komponen
hidrokarbon akan mengurangi volume tumpahan sebanyak 50% selama beberapa hari
sejak pertama kali minyak tersebut tumpah. Produk kilang minyak, seperti
gasoline atau kerosin hamper semua lenyap, sebaliknya minyak mentah dengan
viskositas yang tinggi hanya mengalami pengurangan kurang dari 25%.
METODE PENANGGULANGAN
TUMPAHAN MINYAK DI LAUT
Langkah pertama yang harus dilakukan dalam penangannan
tumpahan minyak (oil spill) di laut adalah dengan cara melokalisasi tumpahan
minyak menggunakan pelampung pembatas (oil booms), yang kemudian akan
ditransfer dengan perangkat pemompa (oil skimmers) ke sebuah fasilitas penerima
"reservoar" baik dalam bentuk tangki ataupun balon. Langkah
penanggulangan ini akan sangat efektif apabila dilakukan di perairan yang
memiliki hidrodinamika air yang rendah (arus, pasang-surut, ombak, dll) dan
cuaca yang tidak ekstrem.
Beberapa teknik penanggulangan tumpahan minyak diantaranya
in-situ burning, penyisihan secara mekanis, bioremediasi, penggunaan sorbent
dan penggunaan bahan kimia dispersan. Setiap teknik ini memiliki laju
penyisihan minyak berbeda dan hanya efektif pada kondisi tertentu.
a. In-situ burning adalah pembakaran
minyak pada permukaan air sehingga mampu mengatasi kesulitan pemompaan minyak
dari permukaan laut, penyimpanan dan pewadahan minyak serta air laut yang
terasosiasi, yang dijumpai dalam teknik penyisihan secara fisik. Cara ini
membutuhkan ketersediaan booms (pembatas untuk mencegah penyebaran minyak) atau
barrier yang tahan api. Beberapa kendala dari cara ini adalah pada peristiwa
tumpahan besar yang memunculkan kesulitan untuk mengumpulkan minyak dan
mempertahankan pada ketebalan yang cukup untuk dibakar serta evaporasi pada
komponen minyak yang mudah terbakar. Sisi lain, residu pembakara yang tenggelam
di dasar laut akan memberikan efek buruk bagi ekologi. Juga, kemungkinan
penyebaran api yang tidak terkontrol.
b. Cara kedua yaitu penyisihan minyak
secara mekanis melalui dua tahap yaitu melokalisir tumpahan dengan menggunakan
booms dan melakukan pemindahan minyak ke dalam wadah dengan menggunakan
peralatan mekanis yang disebut skimmer. Upaya ini terhitung sulit dan mahal
meskipun disebut sebagai pemecahan ideal terutama untuk mereduksi minyak pada
area sensitif, seperti pantai dan daerah yang sulit dibersihkan dan pada
jam-jam awal tumpahan. Sayangnya, keberadaan angin, arus dan gelombang
mengakibatkan cara ini menemui banyak kendala.
c. Cara ketiga adalah bioremediasi yaitu
mempercepat proses yang terjadi secara alami, misalkan dengan menambahkan
nutrien, sehingga terjadi konversi sejumlah komponen menjadi produk yang kurang
berbahaya seperti CO2 , air dan biomass. Selain memiliki dampak lingkunga
kecil, cara ini bisa mengurangi dampak tumpahan secara signifikan. Sayangnya,
cara ini hanya bisa diterapkan pada pantai jenis tertentu, seperti pantai
berpasir dan berkerikil, dan tidak efektif untuk diterapkan di lautan.
d. Cara keempat dengan menggunakan
sorbent yang bisa menyisihkan minyak melalui mekanisme adsorpsi (penempelan
minyak pada permukaan sorbent) dan absorpsi (penyerapan minyak ke dalam
sorbent). Sorbent ini berfungsi mengubah fasa minyak dari cair menjadi padat
sehingga mudah dikumpulkan dan disisihkan. Sorbent harus memiliki karakteristik
hidrofobik,oleofobik dan mudah disebarkan di permukaan minyak, diambil kembali
dan digunakan ulang. Ada 3 jenis sorbent yaitu organik alami (kapas, jerami,
rumput kering, serbuk gergaji), anorganik alami (lempung, vermiculite, pasir)
dan sintetis (busa poliuretan, polietilen, polipropilen dan serat nilon)
e. Cara kelima dengan menggunakan
dispersan kimiawi yaitu dengan memecah lapisan minyak menjadi tetesan kecil
(droplet) sehingga mengurangi kemungkinan terperangkapnya hewan ke dalam
tumpahan. Dispersan kimiawi adalah bahan kimia dengan zat aktif yang disebut
surfaktan (berasal dari kata : surfactants = surface-active agents atau zat
aktif permukaan).
Bab
3 Penutup
Kesimpulan
: Eksploitasi merupakan sebuah kegiatan
yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Hal ini dikarenakan
eksploitasi dilakukan dalam rangka pemenuhan kebutuhan manusia. Akan tetapi
eksplotasi alam yang berlebihan justru akan menimbulkan kerusakan alam.
Sehingga kegiatan pemenuhan kebutuhan manusia pada akhirnya akan terganggu.
Daftar
Pustaka
http://www.earthscrust.org/science/startups/australia-su.html
http://www.geology.ohio-state.edu/~vonfrese/gs100/lect22/
http://www.geology.ohio-state.edu/~vonfrese/gs100/lect22/
Tempo.com
Antaranews.com
http://www.kabarsaham.com/2011/pengeboran-migas-sulbar-mulai-temukan-gelembung.html
Rumidi,Sukandar. 1999. Bahan Galian Industri. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press
sindonews.com
ilhamirdian.wordpress.com
Adams,
Patricia.1991.Odious Debs.Jakarta : PT. Binarena Pariwara
Perkins, Jhon.1995.Masa Depan Bumi.Jakarta : Yayasan Obor Indonesia
Perkins, Jhon.1995.Masa Depan Bumi.Jakarta : Yayasan Obor Indonesia
►Diposting oleh
:Unknown
:
di
07.53
BSM, Perlukah !
Oleh Anggalih Bayu Muh Kamim
Bantuan siswa miskin( BSM) yang muncul sebagai produk
kebijakan pemerintah pasca kenaikan harga BBM bulan juli 2013 lalu, tampaknya
hanyalah sekedar kompensasi belaka. BSM dapat diibaratkan sebagai obat penenang sementara. Hal ini dikarenakan
program ini muncul pasca kenaikan harga BBM. BSM digunakan sebagai pengalih
perhatian oleh pemerintah agar warga yang miskin tidak menuntut haknya.
Kemunculan BSM juga justru menyebabkan program pemerintah di bidang pendidikan
menjadi terbengkalai.
Pemberian BSM ini bertujuan untuk memberikan
layanan pendidikan bagi penduduk miskin untuk dapat memenuhi biaya kebutuhannya
di bidang pendidikan agar siswa yang orang tuanya tidak mampu atau `miskin
tetap memperoleh pendidikan. Namun kenyataannya program ini hanya
direalisasikan di Pulau Jawa. Sehingga
dapat dilihat bahwa siswa tak berpunya di luar Jawa tidak diperhatikan. Padahal
sebelum muncul program BSM, pemerintah telah menetapkan program sekolah
gratis bagi siswa dari keluarga tidak
mampu. Akibatnya menyebabkan program sekolah gratis ini tidak terealisasikan.
Sebenarnya program sekolah gratis lebih memberikan dampak positif yang lebih besar dari pada program BSM. Hal
ini dikarenakan siswa yang akan mendapatkan BSM harus memenuhi kriteria
tertentu dan beberapa persyaratan. Dan juga
dana bantuan untuk siswa jumlahnya terbatas. Ini menggambarkan bahwasanya program BSM
cenderung bersifat pilih kasih.
Padahal
dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31
ayat 4 dijelaskan bahwa negara memprioritaskan anggaran pendidikan
sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara
daerah untuk memenuhi kebutuhan
penyelenggaraan pendidikan nasional. Ayat ini diperkuat oleh pasal 31
ayat 2 yang berbunyi setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah
wajib membiayainya. Hal ini mengisyaratkan bahwa memang sudah selayaknya
pemerintah menggratiskan biaya sekolah
bagi seluruh pelajar di Indonesia. Hal ini tentunya bertolak belakang dengan program
BSM yang cenderung pilih kasih, karena tidak semua siswa miskin mendapatkan
BSM. Contohnya saja untuk mendapatkan
BSM bagi jenjang pendidikan SMP, untuk mendapatkan BSM siswa harus memenuhi
kriteria seperti orang tua siswa terdaftar sebagai
peserta PKH, memiliki kartu miskin, yatim dan/atau piatu, Pertimbangan lain (misalnya – kelainan fisik, korban
musibah berkepanjangan, anak korban PHK, atau indikator lokal lainnya).
Hal ini memperlihatkan bahwasanya
program BSM tidak efisien. Selain itu, program BSM juga menyebabkan pencairan
dana bantuan operasional sekolah( BOS ) menjadi terhambat. Hal ini dikarenakan
pihak sekolah sibuk mendata dan menyaring siswa yang pantas mendapatkan BSM.
Bukannya menghitung anggaran operasional dan kebutuhan sekolah dalam pelaksanaan
kegiataan belajar-mengajar. Akibatnya kegiatan belajar-mengajar menjadi
terganggu karena ketidakadaan anggaran yang disusun. Sekolah menjadi
memundurkan jadwal ujian tengah semester, ujian akhir semester dari tanggal
pelaksanaan yang sebenarnya. Gaji guru dan karyawan juga menjadi tidak terurus
karena tidak adanya prioritas pengedepanan penyusunan anggaran sekolah. Anehnya
lagi dalam hal pembagian anggaran, dana untuk program BSM lebih besar daripada
dana BOS. Padahal BOS adalah pelancar kegiatan belajar-mengajar di sekolah.
Akibat dana bantuan yang sedikit, menyebabkan orang tua siswa terpaksa mengeluarkan uang tambahan untuk operasional
kegiatan belajar-mengajar. Hal ini tentunya melenceng dari tujuan yang sebenarnya.
Pemerintah yang seharusnya
berkewajiban untuk mensejahterakan warganya dengan menyusun kebijakan yang
bermanfaat, justru menggunakan pangkat dan jabatan yang dimilikinya untuk
kegiatan negatif. Mereka tak malu menggelapkan uang negara dan menyesengsarakan
rakyatnya sendiri, hanya demi kesenangan pribadi dan golongannya. Maka
seharusnya pemerintah sebagai panutan rakyat seharusnya tidak hanya menebar
janji saat pencalonan dirinya. Tetapi juga harus berani membuktikan janjinya
itu. Atau kalau tidak semua itu hanyalah omong kosong belaka, sehingga justru
membuat rakyat tidak percaya.
Kebijakan yang disusun pemerintah
seharusnya bukan menjadi obat penenang
sementara belaka. Tetapi kebijakan pemerintah haruslah pro rakyat. Maka
agar segala kebijakan yang disusun
bersifat pro rakyat. Pemerintah terlebih dahulu harus meminta masukan dari
rakyat. Dengan adanya sinergi yang kuat antara pemerintah dan rakyatnya. Maka
akan terciptalah keadilan sosial yang sebenar-benarnya.
►Diposting oleh
:Unknown
:
di
07.45
MAKALAH TARI KLANA

OLEH
ANGGALIH BAYU MUH K
SMA N 2 NGAGLIK
2013
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Indonesia memiliki
berjuta kebudayaan yang telah ada sejak zaman nenek moyang. Mulai dari ujung
barat (sabang) sampai ujung timur (merauke), Indonesia mempunyai kebudayaan
yang berbeda dengan negara lain dan mempunyai kekhasannya tersendiri pada
setiap daerahnya.
Dalam perkembangan di
masyarakat umum, Tari Topeng Cirebon memperoleh dan memiliki penampilan yang
khas, yang selanjutnya dikenal dengan istilah Topeng Babakan atau Dinaan. Tari
topeng adalah salah satu tarian tradisional yang ada di Cirebon. Tari ini
dinamakan tari topeng karena ketika beraksi sang penari memakai topeng. Konon
pada awalnya, Tari Topeng diciptakan oleh sultan Cirebon yang cukup terkenal,
yaitu Sunan Gunung Jati. Ketika Sunan Gunung Jati berkuasa di Cirebon,
terjadilah serangan oleh Pangeran Welang dari Karawang. Pangeran ini sangat
sakti karena memiliki pedang yang diberi nama Curug Sewu. Melihat kesaktian sang
pangeran tersebut, Sunan Gunung Jati tidak bisa menandinginya walaupun telah
dibantu oleh Sunan Kalijaga dan Pangeran Cakrabuana. Akhirnya sultan Cirebon
memutuskan untuk melawan kesaktian Pangeran Welang itu dengan cara diplomasi
kesenian. Sebagai hasil kebudayaan, Tari Topeng mempunyai nilai sosial yang
mengandung pesan-pesan tersembunyi, karena unsur-unsur yang terkandung
didalamnya mempunyai arti simbolik yang diartikan sangat menuju tentang aspek
kehidupan, sehingga juga mempunyai nilai pendidikan. Yang meliputi aspek
kehidupan adalah seperti kepribadian, kebijaksanaa, kepemimpinan, cinta bahkan
dapat menggambarkan perjalanan hisup manusia sejak dia dilahirkan hingga
menginjak dewasa.
Oleh karena itu,
tidaklah mengherankan bahwa Tari Topeng dapat dijadikan media komunikasi untuk
dimanfaatlam secara positif. Pada masa Cirebon menjadi pusat penyebaran Agama
Islam, Sultan Cirebon Syekh Syarif Hidayahtulah yang juga seorang anggota Dewan
Wali Songo yang bergelar Sunan Gunung Jadi, bekerja sama dengan Sunan Kalijaga
menggunakan Tari Topeng dan 6 jenis kesenian lainnya sebagai upaya penyebaran
Agama Islam sebagai tontonan dilingkungan Kraton. Adapaun keenam kesenian
tersebut adalah Wayang Kulit, Gamelan, Renteng, Brai, Angklung, Reog
dan Berokan. Jauh sebelum Tari Topeng masuk ke Cirebon, Tari Topeng
tumbuh dan berkembang sejak abad 10 –11 M. Pada masa pemerintahan Raja
Jenggala di Jawa Timur yaitu Prabu
Panji Dewa. Melalui seniman jalanan (pengamen) Seni Tari Topeng masuk ke
Cirebon dan kemudian mengalami perpaduan dengan kesenian rakyat
setempat.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Tari Topeng
Cirebon
Tari topeng
adalah salah satu tarian tradisional yang ada di Cirebon. Tari ini dinamakan
tari topeng karena ketika beraksi sang penari memakai topeng. Konon jauh
sebelum Tari Topeng masuk Cirebon, telah tumbuh dan berkembang sejak abad ke
10-16 masehi di Jawa Timur. Pada masa pemerintahan Raja Jenggala, yakni Prabu
Amiluhur atau Prabu Panji Dewa.
Melalui seniman
jalanan (pengamen) seni Tari
Topeng akhirnya masuk ke Cirebon dan kemudian mengalami perpaduan dengan
kesenian setempat. Pada masa Cirebon menjadi pusat penyebaran Agama Islam
(zaman Wali Songo) , Syekh Syarif Hidayatullah yang bergelar Syekh Sunan Gunung
Jati bekerjasama dengan Syekh Sunan Kalijaga memfungsikan Tari Topeng sebagai
bagian dari upaya penyebaran Agama Islam yang juga sebagai tontonan
dilingkungan keratin disamping 6 (enam) jenis kesenian lainnya seperti, Wayang
Kulit, Gamelan Renteng, Brai, Angklung, Reog dan Berokan.
Dalam perkembangannya di masyarakat umum, Topeng Cirebon kemudian memperoleh dan memiliki bentuk serta penyajiannya yang spesifik, yang selanjutnya dikenal dengan istilah Tari Topeng Rahwana/Kelana, Tari Topeng Tumenggung,Tari Topeng Rumyang,Tari Topeng samba dan Tari Topeng Panji yang menggunakan Topeng sebagai penutup muka dengan 5 jenis topeng yang kemudian dikenal dengan Panca Wanda (berarti lima wanda atau lima rupa), yakni Rahwana, Tumenggung, Rumyang, Samba dan Panji.
Dalam perkembangannya di masyarakat umum, Topeng Cirebon kemudian memperoleh dan memiliki bentuk serta penyajiannya yang spesifik, yang selanjutnya dikenal dengan istilah Tari Topeng Rahwana/Kelana, Tari Topeng Tumenggung,Tari Topeng Rumyang,Tari Topeng samba dan Tari Topeng Panji yang menggunakan Topeng sebagai penutup muka dengan 5 jenis topeng yang kemudian dikenal dengan Panca Wanda (berarti lima wanda atau lima rupa), yakni Rahwana, Tumenggung, Rumyang, Samba dan Panji.
Beberapa orang
beranggapan bahwa Tari Topeng Cirebon adalah suatu seni tradisional yang
dilakukan secara turun-temurun. Namun, didalamnya ada sedikit unsur mistik,
tetapi hal ini tidak akan berdampak terhadap hidup kita, melainkan hanya
sekedar pertunjukan seni semata.
B. Jenis Tari
Topeng Cirebon
Semua jenis topeng ini
akan dikenakan pada saat pementasan tari topeng Cirebonan yang diiringi dengan
gamelan. Tepeng Cirebon yang paling pokok ada lima yang disebut juga Topeng
Panca Wanda :
1. PANJI “wajahnya
yang putih bersih melambangkan kesucian bayi yang baru lahir. Tari topeng ini
berkarakter halus. Ditampilkan pada kesempatan pertama. Menurut mereka, Panji
berasal dari kata siji (satu, atau pertama), mapan sing siji (percaya kepada
Yang Satu). Gerak tarinya senantiasa kecil dan lembut, minimalis dan lebih
banyak diam. Kata Mutinah (dalang topeng asal Gegesik, Cirebon), menarikan
topeng Panji itu kaya wong urip tapi mati, mati tapi urip. Ungkapan tersebut
adalah untuk menjelaskan, bahwa topeng Panji itu memang tidak banyak gerak,
seperti orang yang mati tapi hidup, hidup tapi mati. Koreografinya lebih banyak
diam, dan inilah sebagai salah satu hal yang menyebabkan tari ini kurang
disukai oleh penonton, terutama penonton awam. Tari ini diiringi oleh beberapa
lagu yang terangkai menjadi satu struktur musik yang panjang dan sulit. Lagu
pokoknya disebut Kembang Sungsang yang dilanjutkan dengan lagu lontang gede,
oet-oetan, dan pamindo deder.Kecuali di Losari, para dalang topeng Cirebon pada
umumnya tidak mengaitkan tariannya dengan tokoh Panji seperti dalam cerita
Panji. Artinya, nama tari tersebut bukan sebagai gambaran tokoh Panji. Kata
Panji hanya dipinjam untuk menyatakan salah satu karakter tari yang halus, yang
secara kebetulan karakternya sama tokoh Panji. Berbeda dengan di Losari, dan
sepanjang yang diketahui saat ini, topeng di daerah ini adalah satu-satunya
gaya yang tidak menampilkan kedok Panji sebagai tari yang ditampilkan pada
bagian pertama (babakan). Gaya ini tidak sebagaimana lazimnya tari topeng di
daerah lain. Kedok Panji justru ditarikan dalam sebuah lakonan dan penarinya
benar-benar memerankan tokoh Panji.”
2. Samba
(Pamindo), topeng anak-anak yang berwajah ceria, lucu, dan lincah. Kata Pamindo, di
kalangan seniman topeng Cirebon, berasal dari kata pindo, artinya kedua. Kata
pindo, umumnya sangat berkaitan dengan urutan penyajian topeng Cirebon itu
sendiri, yang artinya juga sama dengan penyajian tari bagian (babak) kedua.
Akan tetapi, khusus untuk topeng gaya Losari, tarian tersebut justru ditarikan
pada bagian pertama dan digambarkan sebagai tokoh Panji Sutrawinangun. Dalam
gaya topeng Losari memang tidak dikenal adanya tari topeng Panji secara khusus,
karena topeng Panji ditarikan dalam topeng lakonan.
Karakter tari topeng tersebut adalah genit atau ganjen
(bhs. Jw. Cirebon), sama dengan karakter tokoh Samba dalam cerita wayang Purwa.
Oleh sebab itu, tari ini juga sering disebut dengan topeng Samba. Gerakannya
gesit dan menggambarkan seseorang yang tengah beranjak dewasa, periang, dan
penuh suka cita. Itulah sebabnya, mengapa gerakan tari topeng ini seperti
kesusu (terburu-buru), mirip dengan perilaku dan kehidupan seorang anak muda.
3. Rumyang, wajahnya
menggambarkan seorang remaja. Topeng Rumyang menggambarkan seseorang yang penuh
kehati-hatian, dan terkesan seperti ragu-ragu. Ia bak seorang manusia yang
perilaku dan tindak-tanduknya penuh pertimbangan. Ini gambaran seorang manusia
yang sudah mulai mengenal kehidupan. Lagu pengingnya sesuai dengan nama
tarinya, rumyang atau kembang kapas.
Topeng Rumyang sewanda dengan topeng Pamindo, bahkan
dianggap sebagai kelanjutan dari topeng tersebut. Sebagian daerah
menampilkannya pada bagian ketiga, namun sebagain daerah lagi menampilkannya
pada bagian akhir. Perbedaan penampilan ini boleh jadi dipengaruhi oleh
beberapa faktor. Pertama, jika topeng tersebut ditampilkan pada bagian ketiga,
berkaitan dengan gambaran siklus kehidupan manusia, dan kedua berkaitan dengan
pengaruh wayang kulit atau karena pertunjukan topeng itu dilaksanakan pada
malam hari. Perlu diketahui bahwa, akhir pertunjukan wayang kulit Cirebon
biasanya ditandai dengan lagu rumyang. Karena itulah, mengapa topeng Rumyang
itu diakhirkan.
4. Patih
(Tumenggung), topeng ini menggambarkan orang dewasa yang berwajah
tegas, berkepribadian, serta bertanggung jawab. Tari Topeng Patih yang
merupakan tarian pembuka pertunjukan dramatari wayang Topeng Malang memiliki
hubungan erat dengan struktur pertunjukan berkaitan dengan ruang, waktu dan
isi. Untuk itu pendekatan teoritis strukturalis simbolis menjadi strategi
pilihan guna memahami makna simbol yangterdapat di dalamnya. Hasilnya
menunjukkan bahwa struktur koreografi Tari Topeng Patih terdiri dari tujuh
unsur, yaitu unsur penokohan, unsur ritual, unsur komunikasi,unsur gerak
tari, unsur tata rias dan busana, unsur musik pengiring dan unsurpanggung
pertunjukan yang kesemuanya mengarahkan pada perilaku budi luhur.
5. Kelana
(Rahwana), topeng yang menggambarkan seseorang yang sedang marah. Tari topeng Klana
adalah gambaran seseorang yang bertabiat buruk, serakah, penuh amarah dan tidak
bisa mengendalikan hawa nafsu, namun tarinya justru paling banyak disenangi
oleh penonton. Sebagian dari gerak tarinya menggambarkan seseorang yang tengah
marah, mabuk, gandrung, tertawa terbahak-bahak, dan sebagainya. Lagu
pengiringnya adalah Gonjing yang dilanjutkan dengan Sarung Ilang. Struktur
tarinya seperti halnya topeng lainnya, terdiri atas bagian baksarai (tari yang
belum memakai kedok) dan bagian ngedok (tari yang memakai kedok).Beberapa
dalang topeng, misalnya Rasinah dan Menor (Carni), membagi tarian ini menjadi
dua bagian. Bagian pertama, adalah tari topeng Klana yang diiringi dengan lagu
Gonjing dan sarung Ilang. Bagian kedua, adalah Klana Udeng yang diiringi lagu
Dermayonan. Tari topeng Klana sering pula disebut topeng Rowana. Sebutan itu
mengacu pada salah satu tokoh yang ada dalam cerita Ramayana, yakni tokoh
Rahwana. Secara kebetulan, karakternya sama persis dengan tokoh Klana dalam
cerita Panji. Di Cirebon, topeng Klana dan Rowana kadang-kadang diartikan
sebagai tarian yang sama, namun bagi beberapa dalang topeng, misalnya Sujana
dan Keni dari Slangit; Sutini dari Kalianyar dan Tumus dari Kreo; membedakan
kedua tarian tersebut, hanya kedoknya saja yang sama. Jika kedok Klana yang
ditarikan itu memakai kostum irah-irahan atau makuta Rahwana di bagian
kepalanya dan di bagian punggungnya memakai badong atau praba, maka itulah yang
disebut topeng Rowana. Kostumnya jauh berbeda dengan topeng Klana dan kelihatan
sangat mirip dengan kostum tokoh Rahwana dalam wayang wong. Menurut Hasan Nawi, salah
seorang pengrajin topeng Cirebon dalam kehidupan sehari-hari setiap manusia
seperti mengenakan topeng, misalnya saja pada saat marah seperti sudah
mengganti topeng berwajah ceria dengan topeng kemarahan. Kalau ada orang dewasa
yang sikapnya kekanak-kanakan maka ia seperti sedang mengganti topeng dewasanya
dengan topeng anak-anak.
C. ALAT MUSIK
PENGIRING
1. REBAB
REBAB adalah jenis
alat musik senar yang dinamakan demikian paling lambat dari abad ke-8 dan
menyebar melalui jalur-jalur perdagangan Islam yang lebih banyak dari Afrika
Utara, Timur Tengah, bagian dari Eropa, dan Timur Jauh. Beberapa varietas
sering memiliki tangkai di bagian bawah agar rebab dapat bertumpu di tanah, dan
dengan demikian disebut rebab tangkai di daerah tertentu, namun terdapat versi
yang dipetik seperti kabuli rebab (kadang-kadang disebut sebagai robab atau
rubab).
Ukuran rebab biasanya
kecil, badannya bulat, bagian depan yang tercakup dalam suatu membran seperti
perkamen atau kulit domba dan memiliki leher panjang terpasang. Ada leher tipis
panjang dengan pegbox pada akhir dan ada satu, dua atau tiga senar. Tidak ada
papan nada. Alat musik ini dibuat tegak, baik bertumpu di pangkuan atau di
lantai. Busurnya biasanya lebih melengkung daripada biola.
Rebab, meskipun
dihargai karena nada suara, tetapi memiliki rentang yang sangat terbatas
(sedikit lebih dari satu oktaf), dan secara bertahap diganti di banyak dunia
Arab oleh biola dan kemenche. Hal ini terkait dengan instrumen Irak, Joza, yang
memiliki empat senar.
2. GAMELAN
Gamelan adalah
ensembel musik yang biasanya menonjolkan metalofon, gambang, gendang, dan gong.
Istilah gamelan merujuk pada instrumennya / alatnya, yang mana merupakan satu
kesatuan utuh yang diwujudkan dan dibunyikan bersama. Kata Gamelan sendiri
berasal dari bahasa Jawa gamel yang berarti memukul / menabuh, diikuti akhiran
an yang menjadikannya kata benda. Orkes gamelan kebanyakan terdapat di pulau
Jawa, Madura, Bali, dan Lombok di Indonesia dalam berbagai jenis ukuran dan bentuk
ensembel. Di Bali dan Lombok saat ini, dan di Jawa lewat abad ke-18, istilah
gong lebih dianggap sinonim dengan gamelan.
3. GENDER
Gender adalah alat musik pukul logam (metalofon) yang
menjadi bagian dari perangkat gamelan Jawa dan Bali. Alat ini memiliki 10
sampai 14 bilah logam (kuningan) bernada yang digantungkan pada berkas, di atas
resonator dari bambu atau seng, dan diketuk dengan pemukul berbetuk bundaran
berbilah dari kayu (Bali) atau kayu berlapis kain (Jawa). Nadanya berbeda-beda,
tergantung tangga nada yang dipakai. Pada gamelan Jawa yang lengkap terdapat
tiga gender: slendro, pelog pathet nem dan lima, dan pelog pathet barang.
4. KECAPI SULING
Kecapi suling adalah sejenis musik instrumental yang
bergantung pada improvisasi dan populer di provinsi Jawa Barat yang menggunakan
dua alat musik, kecapi dan suling
5. GONG
Gong merupakan sebuah
alat musik pukul yang terkenal di Asia Tenggara dan Asia Timur. Gong ini
digunakan untuk alat musik tradisional. Saat ini tidak banyak lagi perajin gong
seperti ini.
Gong yang telah
ditempa belum dapat ditentukan nadanya. Nada gong baru terbentuk setelah
dibilas dan dibersihkan. Apabila nadanya masih belum sesuai, gong dikerok
sehingga lapisan perunggunya menjadi lebih tipis.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Sebagai hasil
kebudayaan, Tari Topeng mempunyai nilai hiburan yang mengandung pesan–pesan
terselubung, karena unsur – unsur yang terkandung didalamnya mempunyai arti
simbolik yang bila diterjemahkan sangat menyentuh berbagai aspek kehidupan,
sehingga juga mempunyai nilai pendidikan. Variasinya dapat meliputi aspek
kehidupan manusia seperti kepribadian, kebijaksanaan, kepemimpinan, cinta
bahkan angkara murka serta menggambarkan perjalanan hidup manusia sejak
dilahirkan hingga menginjak dewasa. Semoga kesenian ini tetap ada karena banyak
hal yang bisa kita dapatkan dan pelajari dari tarian ini. kata Sujana Arja,
salah seorang maestrotari topeng Cirebon dalam percakapan dengan Kompas belum
lama ini. Hal itulah yang tetap dicoba oleh tarian topeng Cirebonan sebagai
bentuk khas kesenian asli Cirebon. Hingga saat ini, kesenian itu jatuh bangun
mempertahankan keasliannya. Ironisnya, beberapa aliran atau gaya turunan tari
topeng Cirebon hampir punah, bahkan beberapa di antaranya sudah punah. Sebagian
seniman dari aliran tari topeng Cirebon ada yang mencoba mempertahankannya.
Sering kali mereka dianggap kuno. Bahkan, beberapa maestro yang masih eksis,
hidupnya pun jauh dari layaknya seorang maestro seni.
DAFTAR PUSTAKA
►Diposting oleh
:Unknown
:
di
07.41
Langganan:
Postingan (Atom)